HAI GURU

Bismillah.....akhir-akhir ini.bukanlah awal-awal ini.saya sedang tertuju pada tulisan dan karya-karya H.Pidi Baiq. Ilustrator ter-sholeh Mizan....itu yang dia bilang sendiri di bukunya. Drunken
Monster. Dan kemudian, saya terpaku pada sebuah lagu yang dinyanyikan the Panasdalam begitu kira-kira nama band yang tertulis di folder lagu yang saya punya di flashdisk saya. Dan judul lagu
tersebut adalah Hai Guru, Aku Broken Home.....silahkan lihat liriknya di bawah ini. Bukan di atas ini :
hai gurudengarlah kami murid tapi bukan milikmuhai gurudidiklah diri kami sebagai manusiatiap manusia punya hal berbeda jangan kau bentuk diri kami samaharuskah kami jadi lagi2 habibiehai guru haruskah kami taat pada kunci jawabanhai guru haruskah kami benci apa yang engkau bencikami ingin ilmu yang kami maukami ingin pilih yang kami sukadan kau memilih enstein aku pilih frankensteinkalian ................................................ (isilah sendiri titik2nya karena saya mendadak tak bisa mendengar mereka –penyanyi- berbicara apa)pintar patuh sholeh dan manis budimaafkan kami tidak karena kami broken homehai guru maafkan sekolah bagi kami seperti penjarahai guruijazah bagi kami tanda kenang2anhai guru maafkan jika kami beda cara memandangSedikit ulasan dari saya yang juga calon guru.calon pendidik. Yang kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia. Menanggapi keluhan para murid tentang para guru :
Pada hakikatnya, pengertian pendidikan yang orang-orang sering gaungkan adalah “proses memanusiakan manusia”. Walau saya sendiri masih tidak faham indikator menjadi manusia itu seperti apa. Sepertinya semua otak para pendidik harus menyamakan frekuensinya tentang indikator menjadi manusia. Apakah indikator menjadi manusia itu saat manusia yang belum jadi manusia mampu menggunakan akalnya dengan sebaik-baik akal ? atau jadi orang sukses ? sukses yang bagaimana ? atau jadi orang yang ber-budi ? atau jadi manusia yang menyadari misi hidupnya sebagai hamba Allah ?..entahlah...maka saya bilang diawal kita harus punya satu persepsi tentang indikator menjadi manusia yang dimaksud dalam pengertian pendidikan ini.
Lagi-lagi, pada hakikatnya objek pendidikan adalah manusia.....manusia yang notabene adalah individu yang khas, yang memiliki karakter dan potensi yang berbeda, individu yang unik. Benar kata pidi baiq, ya manusia sebagai objek pendidikan tidak bisa di didik sama. Karena mereka memang berbeda. Itupun yang saya pelajari di beberapa mata kuliah pendidikan. Setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda, kematangan yang berbeda, karakter yang berbeda, potensi yang berbeda, motivasi yang berbeda, latar belakang hidup yang berbeda, muka yang berbeda, orang tua yang juga berbeda. Maka perlakukan mereka dengan berbeda, perlakukan sesuai seperti apa diri mereka. Agar itu potensi, karakter, kecerdasan (IQ, EQ, SQ) dapat tergali dengan optimal sesuai apa yang mereka inginkan. Karena guru tidak punya hak untuk memaksa, atau mencetak manusia seperti yang mereka inginkan, dan yang mereka inginkan berarti bisa jadi murid dan guru memang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memandang sesuatu hal. Dan satu...guru bukan mesin percetakan yang bisa seenaknya mencetak siswanya akan seperti apa....Ya....guru hanya sebagai fasilitator, pengarah yang dengan sikap serta kepribadiannya mampu menjadi contoh, mampu menjadi salah satu sumber belajar peserta didiknya, agar ia menjadi pribadi atau manusia yang paripurna. Sayangnya itu guru lulusan LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) seperti lupa, bahwa dia pernah dapat itu mata kuliah.
Dunia pendidikan Indonesia hari ini....seperti terjebak pada sebuah paradigma kecerdasan kognitif saja. Bagaimana seorang peserta didik dapat masuk dalam klasifikasi pintar dan berprestasi adalah saat ia mampu mendapat nilai 10 dalam ulangan harian matematikanya, atau saat peserta didik mampu lolos menempati bangku kelas IPA bukan IPS. Yang konon kabarnya memiliki nilai kebanggaan yang lebih. Ini hanyalah ke-lebay-an belaka saja. Kemudian, coba itu lihat sekolah...tempat kita cari sedikit ilmu dari banyak ilmu, untuk ikut itu namanya proses pendidikan yang katanya bikin manusia jadi manusia. Orang bilang sekolah seperti penjara, sama seperti saya dulu dan sekarang. Bilang sekolah seperti penjara. Buat orang bukan jadi manusia, tapi jadi binatang. Jadi kerbau yang ditusuk hidungnya. Jadi sekolah itu seperti sebuah rutinitas biasa saja. Rutinitas yang membosankan dan dipaksakan. Karena kalo tubuh kita tidak ada di bangku kelas, guru BK (Bimbingan Konseling) yang suka ikut campur urusan orang –kata ane waktu itu- langsung mencak2.....panggil saya, panggil orangtua saya, suruh saya lari-lari keliling lapangan. Jadi ya...sekolah itu rutinitas, biar saya tidak disuruh olahraga tiap hari,...atau disuruh meratapi gerbang pagar. Itu sekolah, yang katanya harus bisa mengeluarkan potensi dan kecerdasan peserta didiknya, buat saya belum nemu sampai sekarang saya punya potensi apa dan kecerdasan di mana? Walau IQ saya selalu berjudul ”cerdas”. Itu yang tertulis di lembar hasil tes psikologi saya. Itu sekolah yang buat saya stress....harus remedial matematika sama fisika tiap kali ulangan. sampai saya bertanya....untuk apa saya belajar itu....lebih baik saya belajar kehidupan saja....di organisasi saya dapatkan itu...bukan di sekolah...bukan di kelas....
Ini saya mulai bingung,,,,,itu guru saya dari SD sampai SMA...waktu kuliah di LPTK, ikut kuliah atau tidak? Ikut belajar atau tidak? Kenapa itu ilmu dari mata kuliah pendidikan tidak ada yang diterapkan sama sekali. Atau selepas wisuda kepala mereka terbentur tembok hingga amnesia?.....karena yang saya pelajari di mata kuliah-mata kuliah pendidikan begitu sempurna.....hmmmmmmm.....ini buat saya yang jadi calon pendidik bingung....biarlah saya buat sendiri sistem pendidikan yang saya inginkan...dengan indikator manusia yang menjadi manusia sesuai apa yang saya inginkan...biar saya punya sekolah sendiri....biar saya ga harus ikut tes PNS...biar saya ga ikut PPG (Program Profesi Guru) hanya biar gaji saya besar....karena klo mau kaya biarlah saya jadi pengusaha atau suami saya jadi pengusaha...bukan pengusaha buku pelajaran yang saya paksa itu murid untuk beli mahal buku dari saya...biar orientasi mendidik saya bukan orientasi untuk biaya hidup,,,,biar setiap tanggal 2 Mei saya ga perlu turun ke jalan....meninggalkan itu murid –yang sebenarnya senang karena sekolah libur- karena saya harus aksi menuntut kesejahteraan...... Pramoedya A. Toer, dalam buku bukan pasar malam –yang saya sendiri belum baca itu buku seperti apa- karena saya coba kutip dari status teman….ia adalah Sri Maryani, anak Pendidikan Bahasa Indonesia, yang saya yakin, itu dia pasti sudah baca itu buku…
“ Kemudian kunasihati mereka yang ingin menjadi guru. Kalau engkau tidak yakin betul, lepaskan cita-citamu untuk jadi guru itu, kataku. Seorang guru adalah kurban. Kurban untuk selama-lamanya, dan kewajibannya terlalu berat. Membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa”.....jadi itu buat anak ITB, UNPAD yang mau ikut PPG biar jadi guru...biar punya gaji besar...mending kelaut aje.
*jadi kenapa gaya bahasa saya seperti pidi baiq? Dia buat saya keracunan*
PS : Untuk Aki Pidi Baiq...bikin lagu untuk dosen atuh,...heuheuheu...karena ternyata sampai sekarang saya belum cocok sama pendidikan formal....^_^